GRESIK.KLIKSURABAYA.CO.ID – Saat ini kita tengah berada di era disrupsi teknologi dan banjir informasi hingga berlimpah ruah tanpa batas lagi. Hingga sampailah pada titik tertentu, dimana tantangan terbesar seorang pendidik di madrasah, sekolah, maupun perguruan tinggi bukan lagi sekadar mentransfer pengetahuan, hal ini dikarenakan mesin pencari dan AI dapat melakukan itu dalam hitungan detik. Pendidik saat ini justru tantangan terberatnya adalah bagaimana caranya untuk menavigasi terdidik untuk berpikir kritis, menyaring informasi, dan memiliki motivasi intrinsik untuk menggali berbagai sumber belajar secara mandiri.
Kita sering menjumpai situasi di mana peserta didik cenderung pasif, enggan membaca teks-teks panjang, dan hanya mengejar nilai akhir, sehingga jalan pintasnya adalah dengan mengerjakan berbagai tugas akdemiknya menggunakan AI, dan bahkan malas untuk mempelajari, mengkaji dan mendalami materi pembelajaran. Akibatnya tentu menjadi tidak paham secara mendalam akan materi pembelajaran.
Menghadapi realitas ini, dibutuhkan pergeseran paradigma yang radikal di ruang kelas menuju Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Pendidik harus mampu tampil sebagai pendidik yang mampu melakukan reformasi pembelajaran sesuai dengan tuntutan kekinian. Pembelajaran di era ini bukan hanya berfokus pada penguasaan kognitif tingkat tinggi semata, akan tetapi juga pada pembentukan karakter, empati, dan keterampilan hidup.
Pembentukan karakter murid sangat penting, karena karakter seseorang akan menentukan kualitas hidup seseorang. Sikap empati bagi terdidik sangat penting agar dalam berkehidupan dapat menjadi sosok yang humanis dalam bermasyarakat. Sedangkan keterampilan hidup merupakan salah satu modal untuk bertahan dalam himpitan sulitnya mencari pekerjaan. Andai saja murid memiliki keteerampilan hidup yang sesuai dengan kekinian, tentu kesulitan hidup akan dapat diselesaikan secara mandiri, karena sudah memiliki bekal hidup yang dapat mendukung kemandirian.
Fondasi Keilmuan: Pengajaran Penuh Welas Asih
Secara konseptual, Pembelajaran Mendalam sebagaimana digagas oleh Michael Fullan berpusat pada enam kompetensi global (6C): Character, Citizenship, Collaboration, Communication, Creativity, dan Critical Thinking. Namun, untuk mengaktifkan nalar kritis anak, gerbang utamanya bukanlah deretan instruksi kognitif, melainkan koneksi emosional. Melalui koneksi emosional ini anak dilatih dan dibiasakan melakukan hal-hal yang bersifat humanis, sehingga karakter empati, welas asih, saling menghargai dan saling menyayangi akan dapat tumbuh dan berkembang dalam diri murid maupun mahasiswa. Jika hal ini dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan, sangat memungkinkan karakter anak dapat ditumbuhkan dan dikembangkan sehingga murid memiliki akhlak mulia.
Di sinilah urgensi penerapan Compassionate Teaching atau pengajaran penuh welas asih sangat perlu untuk dikembangkan di dalam kelas. Proses belajar yang efektif selalu mensyaratkan rasa aman secara psikologis. Sebuah ekosistem kelas yang dibangun di atas pilar-pilar kurikulum berbasis cinta akan menurunkan affective filter (filter afektif) murid. Ketika pendidik hadir di dalam kelas dengan penuh empati, mengakui keberadaan murid, dan tidak menjadikan kesalahan sebagai aib yang bahkan tak jarang mendapatkan bully, dinding pertahanan mental murid akan terbuka. Dalam kondisi jiwa yang aman dan merasa dihargai, materi pembelajaran yang rumit sekalipun menjadi jauh lebih mudah dipahami dan diserap oleh murid secara, sehingga tujuan pembelajaran pun dapat dicapai secara maksimal
Strategi Menggugah Literasi dan Keaktifan Siswa
Seringkali kita dengar, banyak pendidik mengeluhkan rendahnya minat baca siswa. Kesalahan yang kerap terjadi adalah literasi hanya dijadikan kewajiban administratif semata (Misalnya, tiba-tiba saja guru menyampaikan perintah; Baca Bab 2 sebelum kelas dimulai). Pembelajaran Mendalam mengubah pendekatan ini. Untuk memotivasi anak mau membaca sumber belajar, ubah posisi mereka dari sekadar “konsumen informasi” menjadi “investigator”. Pendidik harus mampu mendesain pembelajaran yang mampu mendorong murid termotivasi untuk membaca, menelaah/mengkaji secara mendalam, mengaitkan dan menganalisis peristiwa di sekitar kehidupan murid untuk dipresentasikan di kelas. Menyampaikan pemikiran-pemikiran baru dari proses berpikir murid dapat mendorong pembiasaan berpikir kritis, menumbuhkan kreativitas serta inovasi murid.
Membaca harus dibingkai sebagai sebuah misi pemecahan masalah. Mulailah kelas dengan pertanyaan pemantik (inquiry based question) yang memancing rasa penasaran, atau benturkan pemahaman mereka dengan anomali-anomali di dunia nyata secara aktual dan faktual. Ketika murid sudah bisa merasakan bahwa teori di dalam buku adalah “kunci utama” untuk menyelesaikan masalah yang sedang mereka perbincangkan, maka dorongan untuk membaca literatur akan tumbuh secara organik, tumbuh dengan sendirinya pada diri murid. Dengan demikian murid terdorong untuk mengeksplorasi berbagai informasi terkait dengan penugasan yang mereka terima dari guru.
Desain Penugasan Otentik: Kontekstualisasi Isu Terkini.
Penugasan sering kali menjadi beban yang mematikan motivasi jika didesain hanya untuk mengejar ketuntasan materi pembelajaran semata. Dalam Pembelajaran Mendalam, penugasan harus bersifat otentik, menantang, dan memiliki pilar etis yang kuat. Tugas yang bermakna adalah tugas yang menghubungkan teori di kelas dengan denyut nadi kehidupan masyarakat, benar-benar ada dan dengan mudah ditemui dalam kehidupan keseharian murid, sehingga menjadi pemahaman yang kontekstual dan faktual bagi murid.
Sebagai contoh aplikatif dalam lingkup pendidikan keagamaan (madrasah/PTKI), pendidik dapat merancang penugasan kolaboratif berbasis isu Ekoteologi. Daripada murid hanya sekadar diberikan tugas untuk menghafal teks atau dalil tentang kebersihan, tugaskan mereka untuk turun ke lapangan agarbenar-benar mendapati peristiwa yang aktual. Murid diberikan tugas untuk menganalisis sistem pengelolaan sampah di pesantren atau madrasah, mengidentifikasi lahan kritis, lalu menyusun rumusan teologis-filosofis tentang pelestarian alam sebagai wujud ibadah dan penghambaan kepada Allaah SWT. Dengan strategi ini diharapkan pemikiran-pemikiran yang bersifat solutif, inoasi, kreativitas atas problem-problem di masyarakat dapat muncul dari pemikiran murid. Tahapan ini sekaligus mengembangkan tahapan berpikir tingkat tinggi bagi murid.
Melalui desain penugasan semacam ini, maka siswa tidak hanya dipaksa untuk mencari dan membaca berbagai literatur serta referensi keagamaan, akan tetapi mereka juga dilatih melakukan aksi nyata dalam kehidupan keseharian murid. Pembelajaran menjadi sangat efektif karena nalar kritis mereka terasah dalam memecahkan masalah lingkungan, sementara karakter mereka terbentuk melalui kepedulian terhadap bumi matau lingkungan di sekitar tempat tinggal murid.
Dari Angka Menuju Pelaporan Humanis
Untuk menyempurnakan strategi Pembelajaran Mendalam, cara guru mengevaluasi siswa juga harus direvolusi. Penilaian karakter dan kognitif tidak cukup hanya direduksi menjadi angka kuantitatif di atas kertas saja. Pendekatan yang lebih mutakhir mendorong adanya pelaporan yang lebih bersifat humanis, yang betul-betul mencerminkan kualitas kehidupan murid dalam bermasyarakat, yang secara otomatus strategi ini juga mengembangkan karakter kolaboratif.
Evaluasi yang dilakukan pendidik harus bersifat formatif dan memberikan umpan balik yang membangun (constructive feedback). Sampaikan kepada murid, di mana letak keunggulan gagasan mereka, dan bagaimana mereka bisa mempertajam daya analisisnya. Penilaian yang humanis membuat murid merasa bahwa proses belajar yang mereka lalui, sekecil apa pun kemajuannya, dihargai secara utuh oleh guru. Semua pemikiran, inovasi dan kreativitas yang sudah dihasilkan oleh murid harus mendapatkan apresiasi secara akademis oleh guru.
Akhirnya, perlu dipahami bahwa menciptakan pembelajaran yang efektif dan mendalam adalah sebuah seni. Generasi yang kritis dan literat tidak lahir dari ruang kelas yang didominasi oleh ceramah monolog guru, melainkan dari ruang-ruang dialog yang dinamis antara murid dan guru. Dengan memadukan pengajaran yang humanis, strategi literasi berbasis penyelidikan, dan penugasan otentik yang menyentuh realitas kehidupan, pendidik tidak hanya sedang mentransfer ilmu semata dalam prosesmpembelajarannya. Namun lebih dari itu, yaitu kita sedang membangun fondasi nalar dan karakter peradaban masa depan anak-anak kita yang akan menggantikan peran kita di masa yang akan datang.(****)









